Menjelang pemilu 2009, dunia sepakbola Indonesia dibingungkan akan keberlangsungan kompetisinya.Mulai dari pemain asingnya yang mengancam akan hengkang jika kompetisinya molor , sampai kapolda yang main ancam di stadion.Masing-masing pihak merasa bahwa apa yang dilakukannya adalah hal yang wajar.Yang tidak wajar di sini adalah kenapa hal ini berlaku?
Ketika PSSI menggulirkan mimpi untuk menjadi tuan rumah Piala dunia, para penguasa saling memberikan dukungan,sampai-sampai wapres sendiri berniat menyewa pelatih dunia.Tapi semua itu hanya ocehan belaka.Coba lihat sekarang! Di saat sepakbola Indonesia merasa terancam oleh hiruk pikuk kampanye dan pemilu,apa peduli mereka? Di saat kepala polisi mengancam akan menangkap pemain bola yang sedang terbakar “emosinya” di lapangan,apa peduli mereka? Bisakah kita bayangkan kalau seandainya hal ini berlaku di kompetisi kelas dunia? Walaupun pada dasarnya kelas Indonesia tidak sebanding dengan kelas dunia.Tapi lagi, inilah mungkin yang membuat Indonesia tidak layak untuk maju dalam sepakbola dunia, sekalipun sebagai tuan rumah.
Kita bisa saja menyalahkan PSSI yang amburadul mengatur jadwal.Atau bisa saja menyalahkan para pemain yang sukanya adu jotos.Atau kita bisa menyalahkan wasit yang tidak tegas dalam memimpin.Atau kita bisa menyalahkan penonton,polisi,pemerintah ,nurdin khalid atau siapa saja lah.Tapi sekali lagi yang menjadi pertanyaan….SIAPA YANG PEDULI???
NO OFFENSE
Untuk urusan optimisme,bapak ini patut diacungi jempol! Tapi terkadang memang susah membedakan antara optimis dengan tidak sadar diri.Orang yang mencemooh ide Indonesia menjadi tuan rumah piala dunia bukanlah orang yang pesimis,melainkan orang yang bersikap realistis atau orang yang sudah muak dengan mimpi-mimpi kosong.Dulu pernah kita diberi mimpi agar Indonesia bisa masuk ke piala dunia,dengan bumbu sejarah bahwa Indonesia pernah berpatisipasi dalam piala dunia selagi menggunakan nama Hindia Belanda.Tapi kenyataannya,apa yang sudah dibuat oleh para pemimpi ini? Untuk berbicara di ASIA TENGGARA saja kita tidak mampu,apatah lagi menuju piala dunia, apakah tidak sadar diri namanya? Dengan pengalaman selama ini,sudah layak mereka yang realistis untuk mencemooh ide para pemimpi ini.
Komentar Terakhir