Ada yg menganggap bahwa Otonomi daerah merupakan desentralisasi korupsi , yaitu beralihnya korupsi dari pusat ke daerah.Tapi benarkah itu?
Mungkin bener , mungkin juga tidak.Karna gua rasa belum pernah ada yg melakukan penelitian bahwa apakah dulu sebelum reformasi ,korupsi hanya terjadi di pusat.Jadi menurut gua yg menganggap otonomi daerah sebagai desentralisasi korupsi hanyalah pemikiran sempit dari orang2 yg “fanatik” sentralistik.Korupsi dari dulu terjadi di seluruh wilayah kekuasaan Republik Indonesia! Jadi tidak benar kalo korupsi di daerah hanya terjadi di zaman sekarang setelah otonomi.
Otonomi daerah dan korupsi adalah dua hal yg berbeda yg tidak mungkin disama2kan.Dan yg perlu diingat , dari zaman sentralistik ke zaman desentralistik PUSAT & DAERAH sama2 (ada) melakukan korupsi…! Bedanya kalo dulu terbuka korupsinya ,tertutup beritanya di media massa.Kalo sekarang korupsinya buka2an dan beritanya di media massa juga sangat terbuka….!!!
Tapi harus diakui kalo sekarang jalan untuk korupsi di daerah lebih terbuka…karna kekuasaan daerah menetapkan anggaran sendiri.Walaupun begitu , tetap saja otonomi daerah tidak bisa dikambinghitamkan…!
Jadi yg salah siapa…??? Nilai aja sendiri……..gue gak mau menilai siapa yg salah..! Yg jelas…..yg salah masuk neraka…….hehehehe…..!!!
NO OFFENSE
Mungkin Ya, mungkin tidak, betul, satu lagi akibat otonomi daerah..istilah harus putra daerah…menurutku bisa berbahaya, bisa pula tidak.
iya bener…masalah harus putra daerah juga sangat sensitif..
ada yg menyebut putra daerah adalah orang yg lahir/besar di daerah..
ada juga yg bilang putra daerah adalah orang yg lahir/besar + suku asli daerah…
Mungkin daerah tersebut adalah daerah yg trauma akan masa lalu , yg mana kepala daerah ditunjuk oleh pusat dan dari suku tertentu…
mudah2an semakin lama…dunia politik kita semakin baik … sehingga tidak ada lagi isu2 kesukuan & kedaerahan di negara kita,,,,